Gue kerja di kantor udah hampir tujuh tahun. Duduk di depan laptop delapan jam sehari, meeting yang kadang nggak ada habisnya, dan deadline yang datang kayak tagihan listrik — nggak pernah telat. Punggung gue udah lama protes. Tiap pagi bangun tidur, rasanya kayak ada yang salah sama tulang belakang gue.
Suatu Kamis malam, gue iseng buka aplikasi travel. Nggak mikir panjang, gue beli tiket kereta ke Wonosobo buat Jumat malam. Cuti sehari, tambah weekend, jadilah tiga hari. Tujuan gue cuma satu: Dieng. Bukan karena viral di TikTok, tapi karena gue butuh udara dingin yang bisa bikin gue lupa sama tumpukan email.
Sampai di Dieng, Napas Pertama Itu Beda
Turun dari kereta di Stasiun Kutoarjo jam lima pagi, gue lanjut naik bus ke Wonosobo. Perjalanan sekitar tiga jam. Begitu masuk kawasan Dieng, gue langsung ngerti kenapa orang-orang rela bangun jam tiga pagi buat ke sini.
Udara dinginnya bukan dingin AC kantor. Dingin yang bikin pipi gue merah, tapi justru bikin kepala plong. Kabutnya turun pelan-pelan di antara bukit-bukit hijau. Pemandangan kayak gini yang nggak bisa gue dapetin dari wallpaper desktop.
Gue nginep di homestay sederhana dekat kawasan Candi Arjuna. Harganya sekitar 200 ribu semalam, udah termasuk sarapan pisang goreng dan teh manis panas. Pemiliknya, Pak Slamet, orang lokal yang udah puluhan tahun tinggal di sana. Dia cerita kalau Dieng itu bukan cuma soal foto-foto di golden sunrise.
"Orang kota datang ke sini cuma buat foto, padahal yang paling penting itu mereka duduk diam dulu. Dengerin angin, lihat embun. Itu yang bikin badan sehat," kata Pak Slamet sambil menuang teh.
Gue awalnya cuma senyum. Tapi dua hari kemudian, gue ngerti maksud dia.
Hari Pertama: Nggak Ada Sinyal, Nggak Ada Masalah
Sabtu pagi, gue bangun jam empat. Bukan karena alarm, tapi karena dingin. Gue jalan kaki ke Candi Arjuna yang cuma lima menit dari homestay. Belum banyak orang. Cuma ada beberapa fotografer dan satu keluarga yang bawa anak kecil.
Gue duduk di batu dekat candi. Nggak ngeluarin HP. Serius, gue nggak buka HP sama sekali selama hampir dua jam. Awalnya gelisah. Tangan gue refleks nyari-nyari HP di kantong. Tapi setelah setengah jam, gue mulai terbiasa. Yang gue denger cuma suara angin dan burung.
Setelah sarapan, gue lanjut ke Kawah Sikidang. Ini kawah vulkanik yang masih aktif. Bau belerangnya kuat, tapi pemandangannya luar biasa. Ada kolam lumpur yang mendidih, dan asap putih yang naik terus dari dalam tanah. Tiket masuknya sekitar 20 ribu. Murah banget buat pengalaman kayak gini.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di franchisenesia.
Dari situ, gue jalan ke Telaga Warna. Airnya beneran berwarna-warni, tergantung cahaya matahari. Kadang hijau, kadang biru, kadang kecoklatan. Kata warga, warnanya berubah karena kandungan sulfur di airnya. Gue duduk di pinggir telaga hampir satu jam. Nggak ngapa-ngapain. Cuma lihat air.
Dan anehnya, punggung gue yang biasanya nyeri, hari itu nggak kerasa apa-apa.
Hari Kedua: Mendaki Sikunir dan Pelajaran Tentang Rasa Cukup
Minggu pagi jam dua, gue bangun. Kali ini bukan karena dingin, tapi karena gue janji sama diri sendiri buat naik Gunung Sikunir. Ini bukit yang terkenal buat lihat sunrise. Tingginya sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut. Nggak tinggi-tinggi amat, tapi jalannya lumayan bikin ngos-ngosan.
Gue mulai mendaki jam tiga. Gelap banget. Cuma ada lampu kepala dan suara langkah kaki gue sendiri. Di tengah jalan, gue ketemu dua orang yang juga sendirian. Kami akhirnya naik bareng. Salah satunya, Mas Dimas, ternyata kerja di bank di Jakarta. Dia cerita kalau dia juga kabur dari kantor buat weekend ini.
Kami sampai di puncak sekitar jam empat lebih. Dinginnya luar biasa. Mungkin sekitar 5 derajat Celsius. Tapi begitu matahari mulai naik, semua rasa capek hilang.
Langit berubah dari gelap jadi ungu, lalu oranye, lalu kuning keemasan. Di bawah, awan-awan putih bergerak pelan menutupi lembah. Gunung Sindoro dan Sumbing muncul di kejauhan. Gue nggak bisa ngomong apa-apa. Cuma bisa duduk dan lihat.
Di situ gue sadar sesuatu. Selama ini gue selalu ngejar target. Target kerja, target gaji, target karier. Tapi nggak pernah sekalipun gue duduk diam dan ngerasa cukup. Di puncak Sikunir, gue ngerasa cukup. Cukup buat hari itu. Cukup buat minggu itu.
Yang Gue Pelajari dari Perjalanan Singkat Ini
- Liburan nggak harus jauh atau lama. Tiga hari di Dieng udah cukup buat bikin gue ngerasa kayak orang baru. Nggak perlu ke Eropa atau Jepang.
- Tubuh butuh gerak, bukan cuma duduk. Punggung gue yang nyeri bertahun-tahun, membaik setelah tiga hari jalan kaki dan naik turun bukit.
- Diam itu terapi. Nggak buka HP selama dua jam di depan candi ternyata lebih menenangkan daripada scrolling Instagram selama dua jam di kasur.
- Orang lokal sering punya jawaban yang kita cari. Kata-kata Pak Slamet soal duduk diam itu simpel, tapi ngena banget.
Gue balik ke Jakarta Senin malam. Selasa pagi, gue udah duduk lagi di depan laptop. Tapi ada yang berubah. Punggung gue nggak nyeri. Kepala gue lebih ringan. Dan gue punya satu hal yang nggak bisa dibeli sama uang lembur: rasa cukup.
Kalau kamu kerja kantoran dan ngerasa badan kamu udah protes, coba deh cuti sehari. Nggak usah mikir destinasi yang jauh. Dieng, atau tempat dingin mana pun di Indonesia, bisa jadi jawabannya. Kamu nggak perlu jadi travel blogger buat ngerasain ini. Kamu cuma perlu berani bilang, "Gue butuh istirahat."
Dan percayalah, tiga hari itu bakal ngasih kamu lebih dari yang kamu bayangkan.